Di Antara Dua Detak

Dunia tidak pernah adil bagi mereka yang memiliki satu jantung, namun dipaksa menghidupi dua rasa.

Di hadapanku, Reza menunggu. Kotak beludru biru di atas meja itu seolah memancarkan cahaya yang menyilaukan. Reza adalah definisi dari segala sesuatu yang benar. Ia adalah pria yang diinginkan ibuku, pria yang diingat oleh teman-temanku sebagai sosok yang tak pernah absen memberi kabar, dan pria yang memberikan keamanan yang selama ini kucari.

“Rana?” panggilnya lembut. Suaranya memecah lamunanku. “Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang kalau memang terlalu cepat.”

Aku tersenyum getir. Masalahnya bukan karena ini terlalu cepat, tapi karena di saat yang sama, Aris sedang berdiri di luar, membiarkan tubuhnya kuyup oleh hujan, hanya untuk menungguku berpaling. Aris adalah badai. Ia datang dengan puisi-puisi yang tak pernah selesai, janji-janji yang sering pecah, namun ia memiliki kunci ke bagian paling liar dalam jiwaku.

“Aku butuh udara, Za. Sebentar saja,” kataku terbata.

Reza mengangguk meski matanya memancarkan keraguan. “Jangan lama-lama. Dingin di luar.”

Aku melangkah keluar. Udara dingin langsung menusuk pori-poriku. Di bawah lampu jalan yang temaram, Aris berdiri di sana. Rambutnya lepek, jaket kulitnya basah kuyup. Saat matanya bertemu denganku, detak jantungku yang kedua—yang liar dan menyakitkan itu—berdegup kencang.

“Kenapa kamu di sini, Ris?” tanyaku, berusaha menahan tangis.

“Karena aku tidak bisa membiarkanmu memilih kenyamanan hanya karena kamu takut pada petualangan,” jawabnya serak. Ia melangkah mendekat, aroma hujan dan tembakau menguar darinya. “Pilih aku, Rana. Kita mungkin akan hancur, tapi kita akan merasa hidup.”

Aku menatapnya. Di dalam sana, ada Reza yang menawarkan pelaminan. Di sini, ada Aris yang menawarkan jurang yang indah.

Aku menyadari satu hal. Mencintai dua orang sekaligus sebenarnya adalah tanda bahwa aku tidak benar-benar memiliki diriku sendiri. Aku membagi jiwaku menjadi dua bagian yang tidak utuh.

“Ris,” bisikku. “Kamu selalu tahu cara membuatku merasa spesial. Tapi kamu juga selalu tahu cara membuatku merasa tidak aman.”

Lalu aku berbalik, menatap melalui kaca kafe. Reza masih di sana, menatap kursiku yang kosong dengan sabar. Dia tidak menuntut, dia hanya menunggu. Namun, saat melihat Reza, aku menyadari bahwa aku hanya mencintai “keamanan” yang ia berikan, bukan jiwanya. Dan saat melihat Aris, aku hanya mencintai “tantangan” yang ia bawa, bukan ketidakteraturannya.

Aku kembali masuk ke kafe, namun tidak langsung menuju meja Reza. Aku berdiri di tengah ruangan, membasuh wajahku yang terkena percikan hujan.

Aku menghampiri Reza, menyentuh tangannya, dan menutup kotak beludru itu pelan. “Za, aku tidak bisa. Bukan karena orang lain, tapi karena aku tidak bisa memberikan jantung yang sudah terbagi ini padamu. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang utuh.”

Reza terdiam, matanya layu, namun ia mengangguk seolah sudah menduga ini akan terjadi.

Aku kemudian berjalan ke pintu keluar, melewati Aris yang mulai tersenyum penuh kemenangan. Namun, aku terus berjalan melewatinya begitu saja.

“Rana! Mau ke mana?” seru Aris bingung.

“Pulang,” jawabku tanpa menoleh. “Aku lelah mendengarkan detak jantung orang lain. Aku ingin belajar mendengarkan detak jantungku sendiri tanpa ada gangguan kalian berdua.”

Malam itu, di bawah hujan yang mulai mereda, aku pergi. Sendiri. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, detak jantungku terasa sinkron. Tidak ada percabangan, tidak ada persimpangan. Hanya ada aku dan jalanan yang panjang. (*0*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *