Pagi di gerbang awal tahun 2026 menyapa dengan keheningan yang syahdu. Alam seolah masih enggan terbangun dari peraduannya, menyisakan sisa-sisa mendung tipis di cakrawala. Sebuah jejak bisu dari hujan deras yang membasuh bumi sepanjang malam tadi. Meski udara pagi ini terasa lebih dingin dan lembap dari biasanya, hal itu tidak sedikit pun menyurutkan api semangat yang membara di dada untuk membuka lembaran baru.
Hari ini, tujuan kami telah ditetapkan: Pemandian Alam Salju yang terletak di KM 6, Jl. Sudirman. Sebuah destinasi yang tidak hanya menawarkan kesegaran air, tetapi juga ketenangan yang dicari di tengah hiruk-pikuk pergantian tahun. Perjalanan ini dipilih bukan tanpa alasan; ia adalah ritual penyegaran pikiran sekaligus ruang sakral untuk mempererat tali silaturahmi yang telah lama terjalin.
Antara Tradisi dan Kenyamanan
Ada pemandangan yang selalu menarik dalam setiap perjalanan. Mobil pick-up, yang kini telah menjelma menjadi transportasi ikonik sekaligus “wajib”, sudah bersiap di halaman. Di bak belakangnya, tawa dan obrolan ringan akan menyatu dengan angin perjalanan—sebuah simbol kesederhanaan yang tak lekang oleh waktu.

Namun, untuk memastikan kenyamanan seluruh anggota keluarga, terutama mereka yang membutuhkan ruang lebih tenang, satu unit mobil pribadi turut mengiringi di belakang. Rombongan kecil ini bergerak selaras, membelah jalanan pagi yang masih basah, membawa misi yang sama: merayakan kebersamaan.
Rombongan resmi bertolak menuju lokasi dengan hati yang ringan. Di tengah dinamika dunia yang kian hari terasa kian “memanas” —baik secara harfiah maupun kiasan— perjalanan ini adalah upaya kami untuk “membuka cakrawala”. Kami sadar bahwa tantangan di depan mungkin tidaklah mudah, namun kebersamaan ini berfungsi sebagai oase penyejuk yang membasuh dahaga jiwa.
Melihat senyum di wajah setiap anggota keluarga, kami diingatkan kembali pada sebuah esensi penting:
“Mengawali tahun dengan kesederhanaan dan kebersamaan adalah cara terbaik untuk membentengi diri dan membangun kekuatan dalam menghadapi tantangan di masa depan.”
Sembari roda kendaraan berputar menuju KM 6, kami membawa harapan agar semangat ini terus menyala, memberikan terang bagi sesama di sepanjang tahun 2026.
Tepat pukul 09.00 WIB, perjalanan sampai pada tujuannya. Roda kendaraan akhirnya berhenti berputar di area Pemandian Alam Salju. Beruntung, kami tiba di saat yang tepat; riuh pengunjung belum begitu terasa, menyisakan ruang yang cukup lapang bagi kami untuk menghirup napas dalam-dalam. Tanpa perlu terburu-buru, rombongan segera mencari sudut yang dirasa paling teduh—sebuah “markas kecil” untuk meletakkan bekal dan sekadar meluruskan kaki.

Suasana pun perlahan mencair dalam kegembiraan yang sederhana. Mereka yang sudah tak sabar merasakan dinginnya air segera menceburkan diri, menciptakan riak-riak kecil yang memantulkan cahaya pagi. Sementara itu, sebagian lainnya memilih untuk berkeliling santai, memburu berbagai kudapan hangat yang aromanya mulai menggoda selera di sepanjang tepian kolam. Tidak ada aturan yang kaku, semua bergerak mengikuti ritme keinginannya masing-masing.
Waktu seolah berjalan lebih cepat saat hati sedang senang. Seiring matahari yang beranjak naik, suasana yang tadinya tenang perlahan mulai berubah. Satu demi satu rombongan baru berdatangan, membawa energi yang lebih ramai dan padat. Area yang semula lapang, kini mulai dipenuhi sesak manusia yang ingin merayakan hari yang sama.
Ketika momen kebersamaan sudah terasa cukup dan bermakna, kami memilih untuk melakukan “perpisahan” yang manis dengan lokasi ini. Tepat pukul 11.30 WIB, saat pengunjung mulai menumpuk dan suasana mencapai puncaknya, rombongan memutuskan untuk beranjak pulang. Kami meninggalkan Pemandian Alam Salju di saat kenangan indahnya masih segar di ingatan, membawa pulang rasa puas sebelum keramaian benar-benar mengambil alih segalanya. [o0o]





