Mengenal Falsafah Buraq

Saat penulis masih kecil, ada sebuah pemandangan yang membekas di ingatan. Seorang tetangga memajang gambar berukuran A3 di dinding rumahnya: sosok kuda bersayap dengan wajah wanita yang sangat cantik.

“Gambar apa ini, Yu?” tanya penulis penasaran.
“Itu Buraq,” jawabnya singkat.

Sejak saat itu, imajinasi penulis tentang Buraq terpatri kuat pada visual tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, penulis menyadari bahwa Buraq bukan sekadar makhluk mitologi dalam gambar, melainkan simbol yang sarat akan makna mendalam.

Kecepatan Cahaya dan Kesucian

Secara etimologi, nama Buraq berasal dari kata barq (بَرْقٌ) yang berarti kilat. Penamaan ini merujuk pada kecepatannya yang melesat luar biasa. Ada pula yang berpendapat nama tersebut lahir karena warna badannya yang putih bersih dan mengkilat, melambangkan kesucian perjalanan yang ditempuh.

Simbolisme Nafsu dan Duniawi

Visualisasi Buraq —tubuh kuda dengan kepala wanita cantik— kerap dianggap sebagai sebuah falsafah kehidupan:

Tubuh Kuda: Melambangkan nafsu manusia yang liar dan kuat.

Wajah Wanita Cantik: Mengisyaratkan pesona duniawi (harta, takhta, dan wanita) yang seringkali mengalihkan perhatian manusia.

Keberhasilan Nabi Muhammad SAW menunggangi Buraq adalah simbol bahwa beliau telah sepenuhnya menguasai kedua sifat tersebut. Meski beliau mencapai puncak kepemimpinan tertinggi, Nabi tetap memilih jalan hidup yang sederhana hingga akhir hayatnya.

Beliau SAW membuktikan bahwa jiwa yang agung adalah jiwa yang mampu mengendalikan “kendaraan” nafsunya, bukan dikendalikan olehnya.

Lompatan Transformasi Spiritual

Fenomena Buraq juga menjadi isyarat betapa pesatnya kemajuan umat Islam kala itu. Bangsa Arab yang semula terjebak dalam masa Jahiliyah, dalam waktu singkat bertransformasi 180 derajat menjadi bangsa yang berjiwa mulia.

Perjalanan di waktu malam (Isra) merupakan simbol pendakian ruhani. Allah memberikan kehormatan kepada hamba-hamba-Nya yang memiliki spiritualitas tinggi untuk menyaksikan realitas ghaib.

Melalui Mi’raj, Nabi SAW diperlihatkan masa depan umatnya—bahwa Islam akan melesat cepat dan pengikut para nabi terdahulu akan menjadi pengikut beliau.

Kesimpulan

Kecepatan Buraq adalah cerminan dari kecepatan dakwah Islam. Di saat posisi beliau secara lahiriah mungkin terlihat lemah di awal kenabian, Allah justru mengangkat derajatnya hingga ke Sidratul Muntaha.

Ini adalah bukti nyata kemuliaan Nabi Muhammad SAW sebagai Khataman Nabiyyin—pemungkas para nabi yang memperoleh kedudukan paling luhur di sisi Allah SWT. (-0-)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *