Air Pasang Sungai Mentaya

Duduk di dermaga/ pelahuhan barang Sungai Mentaya sejenak beristirahat di tengah rutinitas keseharian yang menguras pikiran dan tenaga. Air mengalir ke arah hulu menandakan air sedang pasang. Teringat beberapa puluh tahun lalu, di saat pertama melintasi Sungai Mentaya untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah Borneo.

KM (Kapal Motor) Leuser sebagai armada yang membawa langkah kaki menyeberang dari pulau Jawa via Semarang. Sebuah keputusan yang sangat berani di saat itu. Di mana, sahabat dan teman-teman lebih memilih merantau ke Ibu Kota Negara yang masih satu pulau. Tapi, keputusan merantau ke pulau seberang merupakan satu nilai tersendiri dalam mengambil keputusan dalam merantau.

Ketika masih sekolah seorang guru kelas pernah berpesan. Bahwa modal merantau adalah nekat. Sedangkan pesan kedua adalah jangan membawa bekal untuk pulang. Karena jika biaya atau bekal cukup untuk pulang maka tidak ada tantangan untuk bertahan di tanah rantau. Kelihatan sepele pesan tersebut, namun berat untuk dilaksanakan.

Sambil duduk-suduk di dermaga, sambil melihat kegiatan bongkar muat kapal barang yang masih terlihat sibuk. Sementara amang di sebelah sedang asyik memancing.

7 thoughts on “Air Pasang Sungai Mentaya

  1. Petualangan yang indah. Meskipun penuh perjuangan. Hanya orang yang berjiwa besarlah yang mampu melakukan petualangan yang terjal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *