Jam di dinding menunjukkan tepat pukul 02.00 dini hari (30/06/26). Di saat sebagian besar orang masih terlelap dalam mimpi paling nyenyak, rumah kami justru sudah sibuk. Aroma kopi beradu dengan kasak-kusuk suara resleting koper dan bisikan-bisikan pelan agar tidak mengganggu tetangga. Ya, dini hari ini adalah waktu bagi kami untuk meluncur ke pelabuhan.

Perjalanan kali ini terasa sangat rapuh sekaligus penuh riuh di dada. Kami bersiap menyeberang ke tanah Jawa untuk satu misi utama yang sakral bagi sebuah keluarga: mengantarkan si bungsu melangkah ke fase hidup baru, menuntut ilmu. Ada rasa bangga, tapi jujur, terselip juga rasa kehilangan yang mulai mencubit pelan sejak melangkah keluar pintu rumah.
Tapi tunggu dulu, perjalanan ini jauh dari kesan sunyi. Alih-alih pergi bertiga atau berempat, total rombongan kami kali ini mencapai 14 orang! Bisa dibayangkan betapa ramainya? Mulai dari urusan memastikan tidak ada tiket yang terselip, menghitung jumlah tas di bagasi, sampai memastikan 14 kepala ini sudah benar-benar bangun dan tidak ada yang tertinggal di rest area. Heboh, melelahkan, tapi justru di situ serunya. Perjalanan jauh selalu terasa lebih singkat kalau dilewati bersama keluarga dan kerabat dekat.

Menariknya, agenda kami tidak hanya berhenti setelah si bungsu sampai di tempat belajarnya nanti. Sambil menyelam minum air, perjalanan panjang membelah Jawa ini juga kami manfaatkan untuk berziarah ke makam para Wali.
Bagi kami, ini adalah perpaduan perjalanan yang indah. Di satu sisi, kami mengantarkan generasi muda untuk mengejar masa depan dan ilmu dunia-akhirat. Di sisi lain, melalui ziarah wali, kami yang tua maupun yang muda diajak untuk kembali menengok ke belakang, mengambil berkah, serta meneladani kegigihan perjuangan para kekasih Allah dalam menyebarkan kebaikan. Sebuah pengingat spiritual yang adem di tengah riuhnya perjalanan fisik yang kami tempuh.
Saat mobil mulai melaju membelah jalanan kota yang sepi menuju pelabuhan, lampu-lampu jalan tampak berpendar kuning keemasan. Di dalam mobil yang hangat, doa-doa terbaik mulai dipanjatkan secara senyap.
Bismillah, petualangan 14 orang melintasi pulau pun dimulai. Semoga perjalanan ini berkah, selamat sampai tujuan, dan si bungsu dilancarkan dalam meniti jalannya menuntut ilmu. (goes)





