Matahari pagi mulai beranjak naik, dan jarum jam menunjuk ke pukul 06.30. Setelah satu malam dan satu hari penuh dirangkul ombak laut yang tak berkesudahan—membuat kami sempat merasa benar-benar terombang-ambing di tengah ketidakpastian—sebuah pemandangan indah akhirnya menyapa mata: siluet kapal-kapal besar yang mengantre di kejauhan.
KM Dharma Ferry VI yang kami tumpangi perlahan tapi pasti mulai mendekati Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Rasanya seperti ada beban berat yang mendadak luruh dari pundak. Plong! Kami semua akhirnya bisa bernapas lega. Sensasi pusing, mual, dan mabuk laut yang sempat menyerang beberapa anggota rombongan di dalam kamar seolah menguap begitu saja, digantikan oleh gelombang energi baru.

Satu per satu dari kami—ke-14 orang ini—mulai keluar dari zona rebahan di dalam kabin dan merapat ke dek luar kapal. Kami berdiri berjajar di pembatas besi, membiarkan angin laut menerpa wajah, dan berebut menghirup udara segar pagi hari yang terasa begitu nikmat.
Suasana di dek mendadak jadi sangat santai dan penuh tawa. Ada yang sibuk merapikan jaket, ada yang saling meledek tentang siapa yang paling parah mabuk lautnya semalam, dan tentu saja, ada yang langsung mengeluarkan ponsel untuk berswafoto (selfie) dengan latar belakang lautan dan kapal-kapal yang sedang berlabuh. Si bungsu pun terlihat jauh lebih segar pagi ini, matanya berbinar menatap daratan baru tempat ia akan menimba ilmu nanti.
Menunggu kapal benar-benar bersandar dan menurunkan jangkar tidak lagi terasa membosankan. Di atas dek ini, sambil memandangi riak air yang memutih dihantam lambung kapal, kami menikmati momen santai yang hangat sebelum petualangan darat sesungguhnya di tanah Jawa dimulai. Surabaya, kami datang! (goes)





