Roda perjalanan rombongan 14 orang ini langsung berputar menuju misi spiritual kami: Ziarah Wali. Target awal kami sebenarnya adalah melengkapi rute Wali Songo.
Namun, karena keterbatasan waktu dan rute, kali ini kami harus rela absen sowan ke Sunan Gunung Jati di Cirebon. Jadi, perjalanan kami “digenapkan” menjadi ziarah ke 8 Wali, plus satu ulama besar yang tak boleh terlewat: Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi di Tuban.
Rute ini membawa kami menyusuri jejak-jejak sejarah Islam yang luar biasa. Mulai dari area Surabaya dan Gresik mengunjungi Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Gresik, lalu bergeser menyisir jalur pantura menuju Syekh Ibrahim Asmoroqondi, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat.

Energi spiritual di tempat-tempat ini sungguh luar biasa, membuat lelahnya perjalanan darat seolah luruh setiap kali kami duduk bersila mengirimkan doa.
Namun, dari semua destinasi yang kami datangi, juara bertahan yang memberikan tantangan paling seru dan menguji nyali bagi seluruh rombongan adalah saat kami menuju makam Sunan Muria di Kudus!
Berbeda dengan makam Wali lain yang relatif mudah diakses, makam Sunan Muria ini letaknya di atas gunung. Mobil rombongan jelas harus diparkir jauh di bawah.
Pilihan untuk naik hanya dua: jalan kaki mendaki ribuan anak tangga yang sukses membuat lutut gemetar, atau naik angkutan lokal yang terkenal legendaris: Ojek Muria.
Karena membawa rombongan besar dengan stamina yang bervariasi, pilihan akhirnya jatuh pada ojek. Dan di sinilah petualangan adrenalin dimulai!
Dari 14 orang dari eombongan kami, hanya 11 yang merasa mampu untuk kepuncak tujuan. Secara bergantian naik ke motor ojek dan sudah menjadi pemandangan yang menggelitik.
Begitu gas ditarik, jantung rasanya mau copot. Para tukang ojek di sana seperti sudah punya “ilmu khusus”. Mereka meliuk-liuk dengan sangat lihai, membelah jalanan menanjak yang curam, sempit, dan berliku tajam di pinggir tebing.
Sepanjang jalan, ada yang sibuk berpegangan erat-erat pada jaket driver-nya sambil berkomat-kamit membaca selawat, ada yang matanya terpejam sama sekali tidak berani melihat jurang di sisi jalan, dan ada juga yang malah tertawa kegirangan menikmati sensasi “roller coaster” alami ini.

Begitu sampai di atas, kami semua saling berpandangan dengan muka yang sedikit pucat tapi langsung tertawa lepas. Sebuah pengalaman yang tidak akan pernah kami lupakan!
Setelah memacu adrenalin, suasana langsung berbalik 180 derajat menjadi sangat syahdu begitu kami memasuki area makam di puncak. Udara gunung yang sejuk dan kabut tipis menyelimuti kami saat bersimpuh di sana.
Rasa lelah dan tegang setelah naik ojek terbayar tuntas oleh ketenangan yang merayap di dada.
Perjalanan religi ini kemudian kami sempurnakan dengan mengunjungi Sunan Kudus yang ikonik dengan menara kudusnya yang mirip candi, serta Sunan Kalijaga di Demak yang teduh.

Meninggalkan bumi Wali, hati kami rasanya penuh. Kami tidak hanya membawa pulang cerita tentang serunya naik ojek gunung atau hebohnya mengatur 14 kepala di perjalanan, tapi kami pulang dengan membawa bekal spiritual dan doa-doa terbaik yang kami titipkan di sepanjang jalur suci ini.





